Di Lampung Tembus Rp50 Ribu per Kilogram
BANDARLAMPUNG – Hanya dalam tiga hari, harga komoditas bawang merah di pasar tradisional Bandarlampung melonjak drastis. Ibu rumah tangga pun dibuat ’’menjerit’’. Hingga kemarin, harga bawang merah sudah menembus Rp45 ribu–Rp50 ribu per kilogram. Padahal pada Sabtu (9/3), harga bawang merah masih Rp38 ribu per kilogram. ’’Tadi saya beli bawang sampai Rp50 ribu sekilo (1 kg),’’ kata Bus Habsah (55), warga Jl. Palapa VB, Labuhanratu, Bandarlampung, kemarin.
Senada, Lina, warga Kedaton, juga mengeluhkan tingginya harga bawang merah. Menurutnya, harga bawang merah pada Sabtu (9/3) Rp38 per kg. ’’Memang naik-naik terus harganya minggu kemarin. Sebelum bawang merah naik, bawang putih lebih dahulu,’’ katanya lagi.
Keluhan juga dilontarkan Ela Hayati, warga Gg. Bukit II, Kampungsawah, Tanjungkarang Timur. Ia mengaku terpaksa membeli ketengan. ’’Mahal sekali. Harusnya pihak terkait langsung mengantisipasi,’’ ujar Ela.
Tingginya harga bawang merah juga terjadi di Lampung Timur. Wati, warga Sekampungudik, mengaku harga bawang merah di pasaran sekarang ini Rp40 ribu per kg. Ia menerangkan bahwa kenaikan harga bawangmerah itu berlangsung sejak lima hari yang lalu.
’’Naiknya baru minggu-minggu ini. Tapi, karena harganya yang lumayan mahal, makanya saya membelinya seperempat kilogram untuk menu sambal sehari-hari,’’ kata dia.
Tidak hanya di Lampung, naiknya harga bawang merah juga terjadi di sejumlah provinsi. Di antaranya Jawa Timur. Ketua Asosiasi Bawang Merah setempat, Akad, mengakui ada penurunan produktivitas pada awal tahun ini.
Menurutnya, kalau dibandingkan musim kemarau, pada musim penghujan ini produktivitas bawang merah turun hingga 40 persen.
Kenaikan itu disebabkan faktor iklim sehingga membuat produktivitas menurun. Bahkan, penurunan produktivitas itu mencapai hampir 40 persen dibandingkan kondisi pada musim kemarau. ’’Dampaknya bisa meluas,’’ tuturnya.
’’Selama ini ketika musim kemarau, besaran produksi rata-rata Jatim, terutama di sentra-sentra seperti Nganjuk, bisa mencapai 16–18 ton per hektare. Sedangkan ketika musim hujan turun hanya 10 ton per hektare. Kalau secara nasional, rata-rata produksi 14–16 ton per hektare pada musim kemarau dan 10–12 hektare pada musim hujan,’’ ujarnya.
Turunnya produksi membuat harga bawang merah meningkat. Kini harga bawang merah di tingkat petani Rp20.000 per kg. Harga itu meningkat dari sebelumnya Rp16 ribu–Rp18 ribu per kg. Kenaikan harga itu cukup tinggi, mengingat ketika musim kemarau harga bawang merah di tingkat petani hanya Rp6.000–Rp7.000 per kg.
’’Kami perkirakan harga bergerak turun pada Mei nanti, karena sentra bawang merah di Brebes dan Cirebon mulai masuk masa panen. Selain itu, April nanti mulai dilakukan penanaman. Tercatat, luas tanam bawang merah sekitar 2.000–3.000 hektare yang tersebar di Nganjuk, Bojonegoro, dan Ponorogo,’’ katanya.
Akad melanjutkan, tahun ini kebijakan pemerintah mendukung petani dengan mengeluarkan kuota impor bawang merah sebesar 60 ribu ton. Menurut dia, penentuan kuota itu dapat mendukung tata niaga bawang merah di dalam negeri dan menjaga kestabilan harga di tingkat petani. (dna/ung/jpnn/p2/c2/ary)
BANDARLAMPUNG – Hanya dalam tiga hari, harga komoditas bawang merah di pasar tradisional Bandarlampung melonjak drastis. Ibu rumah tangga pun dibuat ’’menjerit’’. Hingga kemarin, harga bawang merah sudah menembus Rp45 ribu–Rp50 ribu per kilogram. Padahal pada Sabtu (9/3), harga bawang merah masih Rp38 ribu per kilogram. ’’Tadi saya beli bawang sampai Rp50 ribu sekilo (1 kg),’’ kata Bus Habsah (55), warga Jl. Palapa VB, Labuhanratu, Bandarlampung, kemarin.
Senada, Lina, warga Kedaton, juga mengeluhkan tingginya harga bawang merah. Menurutnya, harga bawang merah pada Sabtu (9/3) Rp38 per kg. ’’Memang naik-naik terus harganya minggu kemarin. Sebelum bawang merah naik, bawang putih lebih dahulu,’’ katanya lagi.
Keluhan juga dilontarkan Ela Hayati, warga Gg. Bukit II, Kampungsawah, Tanjungkarang Timur. Ia mengaku terpaksa membeli ketengan. ’’Mahal sekali. Harusnya pihak terkait langsung mengantisipasi,’’ ujar Ela.
Tingginya harga bawang merah juga terjadi di Lampung Timur. Wati, warga Sekampungudik, mengaku harga bawang merah di pasaran sekarang ini Rp40 ribu per kg. Ia menerangkan bahwa kenaikan harga bawangmerah itu berlangsung sejak lima hari yang lalu.
’’Naiknya baru minggu-minggu ini. Tapi, karena harganya yang lumayan mahal, makanya saya membelinya seperempat kilogram untuk menu sambal sehari-hari,’’ kata dia.
Tidak hanya di Lampung, naiknya harga bawang merah juga terjadi di sejumlah provinsi. Di antaranya Jawa Timur. Ketua Asosiasi Bawang Merah setempat, Akad, mengakui ada penurunan produktivitas pada awal tahun ini.
Menurutnya, kalau dibandingkan musim kemarau, pada musim penghujan ini produktivitas bawang merah turun hingga 40 persen.
Kenaikan itu disebabkan faktor iklim sehingga membuat produktivitas menurun. Bahkan, penurunan produktivitas itu mencapai hampir 40 persen dibandingkan kondisi pada musim kemarau. ’’Dampaknya bisa meluas,’’ tuturnya.
’’Selama ini ketika musim kemarau, besaran produksi rata-rata Jatim, terutama di sentra-sentra seperti Nganjuk, bisa mencapai 16–18 ton per hektare. Sedangkan ketika musim hujan turun hanya 10 ton per hektare. Kalau secara nasional, rata-rata produksi 14–16 ton per hektare pada musim kemarau dan 10–12 hektare pada musim hujan,’’ ujarnya.
Turunnya produksi membuat harga bawang merah meningkat. Kini harga bawang merah di tingkat petani Rp20.000 per kg. Harga itu meningkat dari sebelumnya Rp16 ribu–Rp18 ribu per kg. Kenaikan harga itu cukup tinggi, mengingat ketika musim kemarau harga bawang merah di tingkat petani hanya Rp6.000–Rp7.000 per kg.
’’Kami perkirakan harga bergerak turun pada Mei nanti, karena sentra bawang merah di Brebes dan Cirebon mulai masuk masa panen. Selain itu, April nanti mulai dilakukan penanaman. Tercatat, luas tanam bawang merah sekitar 2.000–3.000 hektare yang tersebar di Nganjuk, Bojonegoro, dan Ponorogo,’’ katanya.
Akad melanjutkan, tahun ini kebijakan pemerintah mendukung petani dengan mengeluarkan kuota impor bawang merah sebesar 60 ribu ton. Menurut dia, penentuan kuota itu dapat mendukung tata niaga bawang merah di dalam negeri dan menjaga kestabilan harga di tingkat petani. (dna/ung/jpnn/p2/c2/ary)
